Jalan 41 Tahun Jadi Sopir Bajaj, Tak Takut Dengan Perubahan Zaman

Sobirin (61) sang sopir bajaj ibu kota sedang menunggu penumpang bersama bajaj biru yang legendaris pada masanya di depan Stasiun Jakarta Kota pada Senin (18/04/23). Foto: Salsyabila Sukma

Eksistensi Bajaj kini mulai tergerus zaman akibat maraknya transportasi publik yang lebih modern. Tak terikat integrasi oleh transportasi lain juga membuat para sopir kendaraan roda tiga ini harus memutar otak agar tak sepi penumpang.

JAKARTA - Bajaj merupakan kendaraan umum yang seringkali dijumpai di DKI Jakarta. Suara bising dari knalpot kendaraan beroda tiga ini menjadi ciri bajaj di Ibu Kota. Tidak seperti dulu, kini semua angkutan umum ini telah menggunakan bahan bakar gas, sehingga bebas dari suara bising.

Meski begitu, bajaj kini perlahan mulai dilupakan orang. Adanya transjakarta dan transportasi umum seperti ojek online membuat bajaj menjadi pilihan terakhir kebanyakan orang.

Kurang efisiensi dan tidak terintegrasi dengan kendaraan umum lain seperti KRL, transjakarta atau microtrans membuat bajaj perlahan kehilangan peminatnya. Meski demikian, Sobirin merupakan sopir bajaj di Jakarta tidak pernah takut orderannya sepi.

“Semua itu (tergantung) rezeki kan” kata Sobirin yang ditemui di kawasan Kota Tua, Jakarta.

Telah menjadi sopir bajaj sejak tahun 1982, Sobirin mengaku enggan meninggalkan profesi yang telah dijalankan selama 41 tahun ini. Ia setia mengoperasikan bajajnya setiap hari dari subuh hingga matahari terbenam sampai saat ini.

Mengejar penumpang dari fajar hingga matahari terbenam pun tidak menjamin ramai atau tidaknya penumpang yang naik. Tidak bisa diprediksi kapan ramai atau sepinya penumpang yang menggunakan jasanya. 

Kawasan Kota Tua yang ramai penumpang KRL dan wisatawan lokal maupun asing menjadi target mengapa Sobirin memarkirkan bajajnya di area tersebut.

Sebelum menjadi sopir bajaj, ketika masa muda dulu Sobirin bekerja menjadi sopir di pemerintahan pada tahun 80-an. namun profesi tersebut tidak berlangsung lama

“Dulu saya pernah jadi sopir untuk pemerintahan, tapi akhirnya saya memilih untuk jadi sopir taksi saja. Tidak lama dari itu saya pindah lagi (ke bajaj).” ucap Sobirin. 

Setelah beralih profesi menjadi sopir bajaj, dirinya justru mendapatkan kenyamanan tersendiri hingga betah menjalani profesi tersebut hingga saat ini.

“Untuk sehari bisa seratus hingga dua ratus (ribu). Itu sudah alhamdulillah,” ujar pria berumur 61 tahun tersebut.

Tarif untuk menaiki bajaj ini berdasarkan jauh dekat jarak yang ditempuh. Tidak seperti taksi yang memiliki argo, transportasi ini menggunakan perkiraan harga dari sang sopir karena mayoritas hanya menuju destinasi terdekat.

Walaupun popularitas bajaj kini sudah mulai meredup, adanya bajaj di kawasan ibukota tetap dibutuhkan, terutama untuk orang tua dan lansia yang terbiasa menaiki bajaj. Adanya sistem integrasi dan elektronik di beberapa angkutan umum saat ini masih belum sepenuhnya diterima oleh generasi lama.


Keyword: #sopirbajaj #mencarinafkah #bajaj #perkembanganzaman

Posting Komentar

0 Komentar