![]() |
| Ulasan novel Bumi Manusia tentang kehidupan dan kisah cinta di masa kolonial. Foto: Pinterest |
Novel legendaris Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer masih jadi salah satu buku favorit sepanjang masa oleh para pembaca novel klasik. Karya yang menceritakan kisah antara pribumi dan masyarakat keturunan Belanda tersebut jadi contoh kisah cinta di masa kolonial yang mendapat begitu banyak pertentangan.
Novel ini dapat menggambarkan unsur-unsur sejarah dengan baik meski karyanya merupakan fiksi. Dituliskan menggunakan bahasa sastra Indonesia lama, tulisan ini semakin membuka dan membuat para pembacanya masuk ke dalam fantasi di latar Indonesia yang kala itu belum sepenuhnya terbentuk menjadi Indonesia.
Buku ini menggambarkan bagaimana sikap masyarakat dalam menghadapi pribumi, dalam novel tersebut Minke yang masuk ke dalam lingkaran lingkungan priyayi dan orang-orang Belanda atau 'londo' kala itu. Kemudian bagaimana sikap diskriminatif yang diterima Minke selama bersekolah dan menjalani kehidupannya.
Minke merupakan seorang yang takjub dengan segala kemajuan dan modernisasi yang ada di Eropa. Ia melihat dunia sekitarnya melalui sudut pandang eropa-nya tanpa mengurangi rasa nasionalisme nya sebagai pribumi. Dalam sudut pandang Minke terlihat bahwa rasisme dari bangsa Belanda terhadap pribumi masih sangat tinggi pada masa itu.
Dalam kutipan cerita, Minke dan kawannya, Robert yang merupakan seorang Indo. Mereka mengejar identitas Eropa murni yang mereka inginkan, namun sebetulnya takkan bisa diraih. Rasisme terhadap bangsa pribumi terlihat kembali kala Minke dan Robert datang menemui rumah "gedongan" yang mereka kunjungi.
Gambaran takjub dari Minke mendeskripsikan bahwa rumah yang besar pada masa itu hanya dimiliki oleh bangsa - bangsa Belanda dan Indo. Kutipan novel tersebut menyajikan kita bagaimana kondisi Indonesia pada akhir abad ke-19. Bagaimana ketertinggalan bangsa kita pada masa itu, dalam kutipan Minke kerap kali memiliki komentar sinis mengenai pribumi yang masih mempercayai hal - hal mistik. Minke melihat dari slensa eropa-nya ketika mendeskripsikan keadaan di sekitarnya.
Hingga kemudian Minke jatuh cinta dengan seorang wanita keturunan Belanda bernama Annelies. Perasaan cintanya tidak dapat terbendung. Meski kala itu perbedaan latar belakang jadi permasalahan paling utama, terlebih pribumi dikatakan tidak selevel dengan indo.
Dengan perjuangan yang begitu besar, Minke berhasik menikahi Annelies dalam banyaknya pertentangan dari lingkungan sekitar. Meski sudah menikah, kebahagiaannya tak bertahan lama karena Annelies diadili dan dipaksa pergi ke Belanda untuk dibawa ke keluarga Ayah biologisnya.
Kisah Annelies dan Minke jadi bukti bahwa cinta yang begitu besar akan kalah dimakan aturan adat dan kebiasaan masyarakat kala itu. Pengaruh dari para petinggi dan priyayi masa itu begitu menaruh pagar tinggi antara hubungan masyarakat pribumi dan orang indo.Dengan kisah tersebut, didapat bahwa susunan struktur cerita novel Bumi Manusia ini begitu rumit. Berikut pembahasan struktur cerita yang disampaikan oleh Pramoedya Ananta Toer:
“Dalam hidupku, baru seumur jagung, sudah dapat kurasai: ilmu pengetahuan telah memberikan padaku suatu restu yang tiada terhingga indahnya.” Itulah kalimat pertama dalam pembukaan bab ini. Kita diperkenalkan kepada seorang protagonis yang meletakkan ilmu pengetahuan di atas altar terdalam hatinya. Kalimat-kalimat selanjutnya yang dituliskan dalam catatan Minke merupakan pujaan — kumpulan ekspresi takjub atas kemajuan jaman, serta keajaiban yang telah dibawa sains ke dalam dunianya.
Sedari melaksanakan pujanya terhadap modernitas, ia pun tak lupa melontarkan komentar-komentar sinis terhadap mistisisme dan tradisi sekitarnya. Di sinilah letak kelucuannya: Minke menghujat Inlander di sekitarnya karena memuja hal-hal mistik, sementara ia sendiri memuji rasionalitas Eropa dengan tingkat pengabdian yang setara dengan bagaimana Inlander memuja dewa-dewi serta leluhur. Minke merupakan seorang Inlander yang terpikat oleh Eropa, berusaha menjadi Eropa, dan memandang dunia sekitarnya dengan lensa Eropa.
Namun, pada saat yang bersamaan ia juga membenci bagaimana ia takkan bisa menjadi Eropa seutuhnya. Designasi rasis yang dilimpahkan Eropa terhadap pribumi tidak memungkinkan angan-angan Minke atas identitas Eropa-nya untuk menjadi realita. Angan-angan atas kemurnian ini jugalah yang merupakan ciri utama dari karakter Robert. Robert merupakan seorang Indo — yakni, campuran pribumi-Belanda — yang merupakan seorang teman satu sekolah dari Minke.
Ia mengajak Minke untuk berkunjung ke rumah temannya yang juga bernama Robert. Sedari perjalanan mengunjungi teman tersebut, kita mendengarkan komentar-komentar menjatuhkan yang dia arahkan terhadap Minke; bahwa Minke yang merupakan pribumi dianggap akan memiliki masa depan yang kurang beradab jika dibandingkan dengan Robert.
Dengan memberi dua karakter nama yang sama, Pram seperti memberi komentar bahwa karakter teman Minke dan penghuni rumah yang mereka tuju tersebut merupakan tipe orang yang sama. Mereka mengejar sebuah identitas ke-Eropa-an murni yang sebetulnya takkan bisa mereka raih. Pengejaran tersebut melahap identitas mereka dan tak memberi ruang di mana mereka dapat membentuk identitas mereka sendiri.
Bersamaan dengan mengangkat derajatnya sendiri, ia juga menjatuhkan derajat Minke dalam upaya pengejaran kemurnian nya. Selanjutnya, kita kembali kepada Minke. Minke sedang mencermati gedongan yang ia kunjungi tersebut. Di sini kita kembali melihat bagaimana Minke memasang lensa Eropa ketika mendeskripsikan keadaan di sekitarnya.
Narasi orang pertama tunggal yang dipilih Pram memungkinkan kita
untuk tidak hanya mengamati melalui lensa, tapi juga memungkinkan kita untuk
mengamati lensa itu sendiri. Bagaimana cara Minke mendeskripsikan sesuatu juga
memberikan pembaca informasi mengenai Minke itu sendiri. Dan sekali lagi, penulisan
deskriptif di sini menunjukkan bahwa Minke merupakan seorang yang sangat
terpikat oleh Eropa.
Nilai Sastra dalam Novel Bumi Manusia
Dalam kutipan novel Bumi Manusia, interaksi sosial yang terjadi antara pribumi dan eropa sangatlah buruk. Rasisme pada masa itu masih sangat tinggi sehingga kaum pribumi dianggap lebih “buruk” dari eropa. Bangsa Belanda dianggap sebagai kaum dengan kasta tertinggi, sedangkan kaum pribumi dianggap sebagai kaum dengan kasta yang lebih rendah.
Nilai moral yang terdapat di kutipan tersebut adalahkita tidak boleh meng-klaim bahwa kasta dari kaum A lebih tinggi dan lebih baik dari kaum B, pemikiran tersebut sangatlah kuno. Terlihat bahwa Robert, kawan Minke yang merupakan seorang Indo, seringkali mengejek dan merendahkan . Ia mengatakan bahwa Minke yang merupakan pribumi dianggap akan memiliki masa depan yang kurang beradab jika dibandingkan dengan Robert. Ini merupakan contoh bahwa Robert sebagai Indo merasa lebih baik daripada Minke yang seorang pribumi, meskipun mereka berdua tidak dapat menjadi eropa murni.
Meskipun Minke sangat tertarik dengan Eropa serta memiliki rasa ketakjuban dari sains modern yang eropa ciptakan serta memiliki pemikiran Eropa, Minke tetap tidak lupa terhadap jati diri aslinya yang merupakan seorang pribumi dari Indonesia.
Pada kutipan novel tersebut, terdapat kalimat yang menyatakan Minke kerap melontarkan komentar-komentar sinis terhadap mistisisme dan tradisi sekitarnya. Di sinilah letak kelucuannya: Minke menghujat Inlander di sekitarnya karena memuja hal-hal mistik. Hal ini menjadi gambaran pasa masa itu banyak yang masih memiliki kepercayaan terhadap hal mistis.

0 Komentar