Semesta yang Patah Hati

 

Semesta juga bisa lelah. Foto: Pexels

Semesta merajuk, meminta kasih sayang lebih pada manusia. Merasa dibiarkan, diacuhkan, ditinggalkan. Semesta pun mencari perhatian dengan caranya. Agar manusia sadar, agar kembali lagi peduli dengannya.

Manusia ternyata lupa dengan yang seharusnya dia lakukan pada semesta. Semakin hari semakin angkuh. Mulai mengabaikan dan melupakan. Hingga akhirnya marah dan mencari kasih sayangnya yang hilang untuk kembali lagi.

Teringat akan dirimu. Semakin hari entah apa yang kau fikir. Entah bagaimana tidak seperti dulu lagi. Memudar semakin lama dengan rasa angkuhmu itu. Pergi untuk tujuan lain. 

Melupakan diriku sesaat demi entah apa yang kau kejar. Kau pergi tanpa meninggalkan apapun. Hilang tanpa memberi pertanda. Seolah kita memang tidak pernah mengetahui sesama.

Semesta sadar, aku ini memang bukan apa-apa dimata tuhan. Bukan pula ciptaan-Nya yang paling mulia di muka bumi. Semesta sadar, manusia itu lah makhluk mulia ini.

“Aku tidak sesempurna manusia, setelah ini aku bisa apa? Izinkan aku untuk merajuk padanya,” kata semesta

Semesta bingung, dalam benaknya apakah ini salahku ataukah memang manusia sudah tidak menyisakan tempat untuk rasa itu dan membawa ini pergi bersama dengannya. “Pergilah sana,” kata semesta.

“Namun aku ingin kau pergi bersama kehancuran sama dengan kehancuran yang kau tinggal ini. Jangan hanya rasa bahagiaku yang kau ikut bawa,”.

Hatiku yang hancur kau tinggalkan tanpa permisi, tanpa maaf, tanpa ucapan selamat tinggal.


Keyword: #puisi #sajak #semesta

Posting Komentar

0 Komentar