Sinopsis dan Kritik Sastra Novel Laskar Pelangi Karya Andrea Hirata

Sinopsis dan kritik sastra novel best seller milik Andrea Hirata, Laskar Pelangi. Foto: Pinterest

Kritik sastra merupakan suatu penilaian dan pemberian komentar terhadap karya sastra baik buku, novel, puisi, lagu, dan lainnya. Kritik sastra diperlukan untuk melihat kelebihan dan kekurangan dalam sebuah karya sastra.

Kritik sastra juga diperlukan untuk membuat karya yang lebih baik dari yang telah dikritik, juga membuat lebih paham mengenai struktur dan bagaimana penulis menyajikan tulisan yang telah ditulis dalam novel yang telah diberi penilaian.

Novel Laskar Pelangi adalah salah satu novel terbaik di Indonesia. Novel ini laku keras saat masa penerbitannya, bahkan disebut-sebut jadi karya terbaik Andrea Hirata selaku penulis novel ini. Ceritanya pun sampai difilmkan hingga tembus jutaan penonton di tahun 2008. 

Meski begitu, setiap karya yang dibuat tetap memiliki kekurangan dan kelemahannya tersendiri yang bisa menjadi bahan evaluasi serta masukan terhadap penulis untuk memperbaiki atau mencari referensi baru dalam penulisan karya kedepan. Berikut ini merupakan kritik sastra yang dapat dari novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata.

SINOPSIS

Secara garis bersar, novel ini bercerita kehidupan kanak-kanak beberapa bocah di Belitong. Andrea Hirata memulainya dengan kisah miris dunia pendidikan di Indonesia dimana sebuah sekolah yang kekurangan murid hendak ditutup. Sekolah tersebut adalah SD Muhammadiyah di Gantung Belitung Timur. Namun, karena murid yang terdaftar genap 10, sekolah dengan bangunan seadanya tersebut tetap diijinkan beraktifitas seperti biasanya. Ke-sepuluh murid tersebut adalah para laskar pelangi. Nama yang diberikan guru mereka bernama Bu Mus, oleh karena kegemaran mereka terhadap pelangi. Siapa saja mereka?

Tokoh dalam novel ini adalah Ikal, Lintang, Sahara, Mahar, A Kiong, Syahdan, Kucai, Borek, Trapani, dan juga Harun. Mereka adalah sahabat yang kisahnya memesona dunia lewat tangan dingin sang penulis. Buku laskar pelangi bercerita keseharian mereka di sekolah dan di lingkungan sosial. Mereka adalah anak-anak desa dengan tekad luar biasa. Perjalanan mereka dipenuhi kejadian yang tak terduga. Secara perlahan mereka menemukan keunggulan di dalam diri dan persahabatan. Ini mungkin yang menjadi titik fokus Andrea Hirata. Ia juga piawai menyisip komedi dalam kisah ini.

Sudut pandang bercerita dalam novel ini menggunakan orang pertama yakni “aku”. Aku sendiri adalah si Ikal. Ia anak yang pandai meski berada di urutan kedua setelah Lintang, bocah terpandai di dalam kelas mereka. Si Ikal ini menaruh minat yang besar pada sastra. Hal ini terlihat dari kegemarannya menulis puisi. Lain lagi dengan tokoh Lintang. Ia digambarkan sebagai anak yang sangat jenius. Orangtuanya seorang nelayan, yang miskin dan hanya tidak memiliki perahu. Mereka memiliki keluarga dalam jumlah yang melimpah, 14 kepala. Lintang sangat suka matematika. Namun, cita-citanya menjadi seorang ahli matematika harus terpangkas dengan tuntutan membantu orangtua menafkahi keluarga. Terlebih saat ayahnya meninggal.

Tokoh lainnya adalah Sahara. Ia merupakan anak perempuan satu-satunya dalam cerita ini. Ia berpendirian kuat dan cenderung keras kepala. Sementara itu, Mahar, ia digambarkan bertubuh ceking dan mencintai seni. Ia suka menyanyi dan gemar pada okultisme. Tokoh berikutnya adalah A kiong. Dari namanya sangat jelas kalau ia merupakan keturunan Tionghoa. Ia sangat menyukai Mahar dan mengikutinya kemanapun. Ia digambarkan tak rupawan tetapi hatinya “tampan”. Lanjut ke Syahdan. Perangainya ceria meski ia tak pernah menonjol dalam kelas. Sementara itu Kucai, adalah tokoh dalam cerita yang didaulat menjadi ketua kelas. Ia digambarkan menderita penyakit rabun jauh sebab ia kekurangan gizi. Borek, Trapani dan Harun adalah anggota laskar` pelangi yang terakhir. Borek digambarkan sebagai anak yang terobsesi dengan otot. Ia ingin menjadi lelaki yang paling macho. Trapani, ia tampan dan pandai. Ia lengket dengan sang ibu. Terakhir, Harun. Ia istimewa sebab ia berbeda dengan anak-anak lainnya. Ia mengalami keterbelakangan mental. Namun menurut beberapa orang, tokoh Harun ini digambarkan dengan cukup manis sehingga banyak yang jatuh cinta pada sosoknya.

Mahar menemukan ide untuk menari dalam acara itu. Mereka semua para Laskar Pelangi menari seperti orang kesetanan, karena aksesoris yang mereka kenakan adalah kalung yang terbuat dari tumbuhan langka dan hanya di Belitung, yaitu merupakan tumbuhan yang bisa membuat seluruh badan gatal. Alhasil mereka semuapun menari seperti orang yang kesurupan, akan tetapi karena ide cemerlang inilah SD Muhammadiyah dapat memenangkan perlombaan tersebut.

Kenangangan-kenagan indah pun terukir namun setelah kedatangan flo, seorang anak kaya raya pindahan dari SD PN, ia masuk dalam kehidupan laskar pelangi. Kedatangannya di SD Muhammadiyah yang membawa pengaruh buruk bagi kawan-kawannya terutama Mahar; yang duduk satu meja dengan flo. Sejak kedatangan flo tersebut nilai Mahar seringkali turun dan jeleh sehingga membuat bu Mus Marah.

Hari-hari mereka selalu diwarnai dengan canda, tawa maupun tangis. Namun, dibalik itu semua keceriaan mereka, ada seorang murid anggota dari laskar pelangi yang bernama Lintang yang perjuangannya terhadap pendidikan sangatlah luar biasa. Lintang rela menempuh perjalanan 80 Km untuk pulang dan pergi mulai rumahnya ke sekolahnya, selain itu ia juga harus melewati sebuah danau yang ada buaya di dalamnya.

Lintang adalah seorang murid yang sangat cerdas. Terbukti pada waktu ia, ikal dan sahara tengah berada dalam perlombaan cedas cermat. Mereka dapat menantang sekaligus mengalahkan Drs. Zulfikar, yaitu guru sekolah kaya PN yang berijazah dan terkenal dengan jawabannya yang menghantarkan ia mereka menjadi pemenang lomba cerdas cermat. Lintang dan teman-teman membuktikan bahwa bukan karena fasilitas yang menunjang yang dapat membuat seorang menjadi sukses maupun pintar, akan tetapi kerja kelas dan kemauan lah yang dapat mengabulkan setiap impian.

Beberapa hari kemudian, Usai perlombaan tersebut lintang tidak masuk sekolah hingga pada suatu hari mereka, teman-teman lintang dan Bu Mus mendapat surat dari lintang yang isinya, Lintang tidak bisa melanjutkan sekolah kembali karena ayahnya meninggal dunia, Pasti saja hal tersebut menjadi sebuah kesedihan yang mendalam bagi anggota team laskar pelangi.

Beberapa tahun kemudian, saat anggota laskar pelangi sudah dewasa, mereka mendapat banyak mendapat pengalaman yang sangat bernilai dari setiap kisah di SD Muhammadiyah, Tentang sebuah persahabatan, Perjuangan, ketulusan serta sebuah mimpi yang harus mereka gapai, pada akhirnya ikal bersekolah di paris, sedangkan mahar dan kawan-kawan lainnya menjadi seorang yang dapat membanggakan Belitung.

Novel laskar pelangi berkisah perjuangan hidup kesepuluh anak ini menghidupkan cita-cita di antara kehidupan mereka yang berat. Ada dinamika di dalamnya. Manis meski berat. Kisah khas anak-anak yang memandang dunia dengan ambisi yang sederhana. Andrea Hirata, meski banyak dihujat sebab mengklaim cerita ini nyata, memang terkesan berlebihan dalam beberapa hal. Namun toh, sebagai novel pembangun, Laskar Pelangi berhasil merubah secuil dunia pendidikan kita, merecharge semangat mereka yang lain untuk meraih ilmu.

KRITIK SASTRA

Pada novel karya Andrea Hirata ini dapat kita lihat mengenai persahabatan, percintaan, pendidikan, dan juga keindahan alam yang ada di pulau Belitong. Penulis dapat mengemas semuanya menjadi sebuah karya sastra yang menjadikan poin tersendiri bagi novel Laskar Pelangi ini. Cerita yang disajikan juga berdasarkan kehidupan sehari - hari sesuai keadaan masyarakat Belitong dan tidak dilebih - lebihkan. Cara penyampaian bahasa tulis dari Andrea Hirata yang begitu khas dan menarik. Dengan aksen-aksen Melayunya yang kental serta menggambarkan latar belakang sosial budaya etnis melayu yang unik serta menarik untuk diceritakan.Masing - masing tokoh memiliki peran tersendiri yang kuat, meskipun terdapat tokoh utama yaitu Ikal.

Novel ini juga menjadi gambaran mengenai menyedihkan nya pendidikan daerah terpencil di Indonesia terutama di SD Muhammadiyah Gantong, Belitung Timur. Keadaan sekolah Muhammadiyah tempat 10 anak itu bersekolah begitu memperihatinkan. Dari segi bangunan sekolah ini hampir roboh sehingga perlu disangga dengan sebuah batang pohon besar. Penulis mampu menggambarkan suasana yang terjadi di Belitong kala itu dengan novel nya. Caranya yang sederhana dalam menulis karya ini membuat semua kalangan mudah memahami isi dan maksud dari novel Laskar Pelangi. Selain itu ia berhasil mengangkat daerah pulau Belitong dari novel ini.

Kekurangan dalam novel ini ialah penggambaran waktu yang terjadi kurang jelas dan terkesan abu - abu, kapan waktu yang terjadi tidak terperinci sehingga para pembaca hanya tahu jika novel ini menceritakan masa kecil Ikal dan para kawan - kawan nya.

 

Keyword: #resensi #novel #sastra #kritiksastra #laskarpelangi

Posting Komentar

0 Komentar